Senin, 11 Mei 2015

Jenis-jenis Pengumpulan Data

1.   Macam-macam Teknik Pengumpulan Data


sumber : Google images
a.    Angket (Kuesionare)

Angket adalah daftar pertanyaan yang diberikan kepada responden untuk menggali data sesuai dengan permasalahan penelitian. Menurut Masri Singarimbum, pada penelitian survai, penggunaan angket merupakan hal yang paling pokok untuk pengumpulan data di lapangan. Hasil kuesioner inilah yang akan diangkakan (kuantifikasi), disusun tabel-tabel dan dianalisa secara statistik untuk menarik kesimpulan penelitian.
Tujuan pokok pembuatan kuesioner adalah  (a) untuk memperoleh informasi yang relevan dengan masalah dan tujuan penelitian, dan (b) untuk memperoleh informasi dengan reliabel dan validitas yang tinggi. Hal yang perlu diperhatikan oleh peneliti dalam menyusun kuesioner, pertanyaan-pertanyaan yang disusun harus sesuai dengan hipotesa dan tujuan penelitian. 

Menurut Suharsimi Arikunto, sebelum kuesioner disusun memperhatikan prosedur sebagai berikut:
1)    Merumuskan tujuan yang akan dicapai dengan kuesioner.
2)    Mengidentifikasikan variabel yang akan dijadikan sasaran kuesioner.
3)    Menjabarkan setiap variabel menjadi sub-sub variabel yang lebih spesifik dan tunggal.
4)    Menentukan jenis data yang akan dikumpulkan, sekaligus unit analisisnya.

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam penyusunan kuesioner, antara lain:
  1. Pertanyaan-pertanyaan yang disusun dalam kuesioner juga harus sesuai dengan variebel-veriabel penelitian, yang biasanya sudah didefinisikan dalam definisi operasional, yang mengandung indikator-indikator penelitian sesuai dengan permasalahan penelitian.
  2. Tiap pertanyaan dalam kuesiner adalah bagian dari penjabaran definisi operasional, sehingga dapat dianalisa dengan tepat untuk menjawab permasalahan penelitian.

Dalam kusioner, pertanyaan-pertanyaan yang diajaukan biasanya pertanyaan mengenai hal-hal sebagai berikut:
  1. Pertanyaan tentang fakta. Misalnya umur, pendidikan, status dan agama
  2. Pertanyaan tentang pendapat dan sikap, yang menyangkut masalah perasaan dan sikap respondsen tentang sesuatu
  3. Pertanyaan tentang informasi. Pertanyaan yang menyangkut apa yang diketahui oleh responden
  4. Pertanyaan tentang persepsi diri. Responden menilai perilakunya diri dalam hubungannya dengan orang lain.

Ditinjau dari segi cara pemakain kuesioner, ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh peneliti, antara lain:
1)    Kuesioner digunakan dalam wawancara  tatap muka  dengan responden
2)    Kuesioner diisi sendiri oleh responden
3)    Wawancara melalui telepon
4)    Kuesioner dikirim melalui pos.

Bagaimana merumuskan/menyusun angket?, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain:
  1. Pakailah bahasa yang sederhana yang dapat dipahami oleh responden.
  2. Pakailah kalimat yang pendek yang mudah difahami.
  3. Jangan terlampau cepat menganggap bahwa responden telah memiliki pengetahuan atau pengalaman tentang masalah penelitian.
  4. Lindungi harga diri responden.
  5.  Bila ingin menanyakan suatu perasaan atau tanggapan yang menyenangkan atau tidak menyenangkan, tanyakan terlebih dahulu hal-hal yang menyenangkan.
  6. Pertimbangkan pertanyaan bersifat langsung atau tidak langsung.
  7. Tentukan pertanyaan terbuka atau tertutup.
  8. Masukkan hanya satu buah pikiran dalam tiap pertanyaan.
  9. Rumusan pertanyaan jangan sampai memalukan responden. (lihat, Nasution, 2006:135-137)

Contoh Angket......

1)    Angket Terbuka, yaitu angket dimana responden diberi kebebasan untuk menjawab
Contoh: Metode apa yang digunakan oleh Bapak/ibu  dalam pengajaran PAI dikelas?
a......................
b......................
c......................
d......................

2)  Angket Tertutup, apabila jawaban pertanyaan sudah disediakan oleh peneliti.
Contoh: Apakah Bapak/Ibu senantiasa memeriksa hasil pekerjaan anak dikelas?
a.    Selau
b.    Sering
c.    Jarang sekali

3)    Angket semi terbuka, yaitu jawaban pertanyaan sudah diberikan oleh peneliti, tetapi diberi kesempatan untuk menjawab sesuai kemauan responden
Contoh: Apa metode yang Bapak?Ibu gunakan dalam pengajaran PAI
a.    Diskusi
b.    Ceramah
c.    ............

Berdasar dari terbentuknya
-  Pilihan ganda
Contoh, seperti pada angket tertutup
-  Isian
Contoh seperti pada angket terbuka
-  Chek list
Contoh

No
Pertanyaan
Jawaban
1
Sebelum pelajaran dimulai diadakan absensi terhadap siswa
ya
tidak

-  Rating Skala

Contoh:
No
Item Pertanyaan
Alternatif Jawaban
Dimensi Kesadaran Diri
STS
TS
N
S
SS
1
Percaya diri bahwa saya merupakan orang yang memiliki kreatifitas dan mampu dalam melaksanakan tugas
2
Mengakui kekuatan dan kelemahan diri
3
Memikul tugas dan bertanggung jawab dalam menyelesaikan masalah


b.    TES

Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur ketrampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok.

Ditinjau dari sasaran atau obyek yang akan dievaluasi,  ada beberapa macam tes dan alat ukur.
  1. Tes kepribadian atau personality test, yaitu tes yang digunakan untuk mengungkap kepribadian seseorang, seperti self–concept, kreativitas, disiplin, kemampuan khusus, dan sebagainya.
  2. Tes bakat atau abtitude test, yaitu tes yang digunakan untuk mengukur atau mengetahui bakat seseorang.
  3. Tes intelegensi atau intellegence test, yaitu tes yang digunakan untuk mengadakan estimasi atau perkiraan terhadap tingkat intelektual seseorang dengan cara memberikan berbagai tugas kepada orang yang akan diukur intelegensinya.
  4. Tes sikap atau attitude test, yang sering disebut dengan istilah kala sikap, yaitu alat yang digunakan untuk mengadakan pengukuran terhadap berbagai sikap seseorang.
  5. Tes minat  atau measures test yaitu tes yang digunakan untuk menggali minat seseorang  terhadap sesuatu.
  6. Tes prestasi atau achievement test yaitu tes yang digunakan untuk mengukur pencapaian seseorang setelah mempelajari sesuatu.
c.   Wawancara

Wawancara merupakan proses komunikasi yang sangat menentukan dalam proses penelitian. Dengan wawancara data yang diperoleh akan lebih mendalam, karena mampu menggali pemikiran atau pendapat secara detail. Oleh karena itu dalam pelaksanaan wawancara diperlukan ketrampilan dari seorang peneliti dalam berkomunikasi dengan responden. Seorang peneliti harus memiliki ketrampilan dalam mewawancarai, motivasi yang tinggi, dan rasa aman, artinya tidak ragu dan takut dalam menyampaikan wawancara. Seorang peneliti juga harus bersikap netral, sehingga responden tidak merasa ada tekanan psikis dalam memberikan jawaban kepada peneliti.

Secara garis besar ada dua macam pedoman wawancara, yaitu:
  1. Pedoman wawancara tidak terstruktur, yaitu pedoman wawancara yang hanya memuat garis besar yang akan ditanyakan. Dalam hal ini perlu adanya kreativitas pewawancara sangat diperlukan, bahkan pedoman wawancara model ini sangat tergantung pada pewawancara.
  2. Pedoman pewawancara terstruktur, yaitu pedoman wawancara yang disusun secara terperinci sehingga menyerupai chek-list. Pewawancara hanya tinggal memberi tanda v (check).
Dalam pelaksanaan penelitian dilapangan, wawancara biasanya wawancara dilaksanakan dalam bentuk ”semi structured”. Dimana interviwer menanyakan serentetan pertanyaan yang sudah terstruktur, kemudian satu persatu diperdalam  dalam menggali keterangan lebih lanjut. Dengan model wawancara seperti ini, maka semua variabel yang ingin digali dalam penelitian akan dapat diperoleh secara lengkap dan mendalam.

Menurut Nasution, ada beberapa hal yang dapat ditanyakan dalam wawancara, antara lain: pengalaman, pendapat, perasaan, pengetahuan, pengeinderaan dan latar belakang pendidikan.

Dalam pelaksanaan wawancara, sering kita temukan dilapangan adanya perbedaan persepsi pandangan tentang hal-hal tertentu yang berkaitan dengan masalah penelitian, antara peneliti dengan orang yang diwawancarai. Berdasar hal tersebut, yang perlu diketahui bahwa dalam penelitian kualitatif naturalistik, ada dua istilah yaitu informasi emic dan etic. Informasi emic adalah informasi yang berkaitan dengan bagaimana pandangan responden terhadap dunia luar berdasar perspektifnya sendiri, sedangkan yang berdasar perspektif peneliti disebut informasi etic.

d.   Dokumen

Data dalam penelitian kualitatif kebanyakan diperoleh dari sumber manusia atau human resources, melalui observasi dan wawancara. Sumber lain yang bukan dari manusia (non-human resources), diantaranya dokumen, foto dan bahan statistik. Dokumen terdiri bisa berupa buku harian, notula rapat, laporan berkala, jadwal kegiatan, peraturan pemerintah, anggaran dasar, rapor siswa, surat-surat resmi dan lain sebagainya.

Selain bentuk-bentuk dokumen tersebut diatas, bentuk lainnya adalah foto dan bahan statistik. Dengan menggunakan foto akan dapat mengungkap suatu situasi pada detik tertentu sehingga dapat memberikan informasi deskriptif yang berlaku saat itu. Foto dibuat dengan maksud tertentu, misalnya  untuk melukiskan kegembiraan atau kesedihan, kemeriahan, semangat dan situasi psikologis lainya. Foto juga dapat menggambarkan situasi sosial seperti kemiskinan daerah kumuh, adat istiadat, penderitaan dan berbagai fenomena sosial lainya.
Selain foto, bahan statistik  juga dapat dimanfaatkan sebagai dokumen yang mampu memberikan informasi kuantitatif, seperti jumlah guru, murid, tenaga administrasi dalam suatu lembaga atau organisasi. Data ini sangat membantu sekali bagi peneliti dalam menganalisa data, dengan dokumen-dokumen kuantitatif ini analisa data akan lebih mendalam sesuai dengan kebutuhan penelitian.

d.   Observasi

Agar observasi yang dilakukan oleh peneliti memperoleh hasil yang maksimal, maka perlu dilengkapi format atau blangko pengamatan sebagai instrumen. Dalam pelaksanaan observasi, peneliti bukan hanya sekedar mencatat, tetapi juga harus mengadakan pertimbangan kemudian mengadakan penilaian ke dalam suatu skala bertingkat.

Seorang peneliti harus melatih dirinya  untuk melakukan pengamatan. Banyak yang dapat kita amati di dunia sekitar kita dimanapun kita berada. Hasil pengamatan dari masing-masing individu akan berbeda, disinilah diperlukan sikap kepekaan calon peneliti tentang realitas diamati. Boleh jadi menurut orang lain realitas yang kita amati, tidak memiliki nilai dalam kegiatan penelitian, akan tetapi munurut kita hal tersebut adalah masalah yang perlu diteliti.

Observasi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu observasi partisipasi dan non-partisipan. Observasi partisipasi dilakukan apabila peneliti ikut terlibat secara langsung, sehingga menjadi bagian dari kelompok yang diteliti. Sedangkan observasi non partisipan adalah  observasi yang dilakukan dimana peneliti tidak menyatu dengan yang diteliti, peneliti hanya sekedar sebagai pengamat.

Menurut Nasution, ada beberapa  hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan observasi, antara lain:
  1. Harus diketahu dimana observasi dapat dilakukan, apakah hanya ditempat-tempat pada waktu tertentu atau terjadi diberbagai lokasi?
  2. Harus ditentukan siapa-siapa sajakah yang dapat diobservasi, sehingga benar-benar representatif?
  3. Harus diketahui dengan jelas data apa yang harus dikumpulkan sehingga relevan dengan tujuan penelitian.
  4. Harus diketahui bagaimana cara mengumpulkan data, terutama berkaitan dengan izin pelaksanaan penelitian.
  5. Harus diketahui tentang cara-cara bagaimana mencatat hasil observasi.
1.  Membuat Instrumen Pengumpulan Data

Ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan dalam penyusunan instrumen, antara lain:
a.    Mengindentifikasikan variabel-variabel yang diteliti
b.    Menjabarkan variabel-variabel dalam beberapa dimensi
c.    Mencari indikator-indikator setiap dimensi
d.    Mendeskripsikan kisi-kisi instrumen
e.    Merumuskan item-item pertanyaan atau pernyataan instrumen
f.     Petunjuk pengisian

Hal lain yang perlu diperhatikan agar instrumen yang disusun tepat sesuai sasaran yang ingin dicapai adalah:
  • Menetapkan sebuah konstruk, yaitu membuat batasan mengenai variabel yang diteliti.
  • Menetapkan dimensi-dimensi, yaitu merumuskan unsur-unsur atau bagian-bagian yang ada pada sebuah kontrak.
  • Menyusun item-item pertanyaan atau pernyataan, yaitu menjabarkan sebuah dimensi-dimensi ke dalam beberapa pertanyaan, untuk menerangkan konstruk variabel yang hendak diteliti.
2.  Membuat catatan lapangan

a.   Data Hasil Catatan Lapangan
Catatan terdiri atas dua bagian, yakni (1) deskripsiyaitu tentang apa yang sesungguhnya kita amati, yang benar-benar terjadi menurut apa yang kita lihat, dengar dan amati dengan alat indra , dan (2) komentar, tafsiran, refleksi, pemikiran atau pandangan sesuatu yang kita amati. Deskripsi ialah uraian obyektif tentang apa yang sebenarnya terjadi menurut apa yang kita lihat dan dengar, tanpa diwarnai oleh pandangan atau tafsiran kita. Komentar adalah pandangan, penilaian, penafsiran terhadap sesuatu. Misal dalam suatu kelas, ada seoarang siswa yang mengantuk dan berusaha untuk menahan rasa kantuk tersebut untuk memperhatikan pelajaran yang disampaikan guru. Fenomena tersebut adalah sebuah deskripsi (kenyataan) tentang proses belajar dikelas, tetapi bila kita mengatakan malas, maka hal tersebut sudah termasuk penafsiran.

b.  Sistematika catatan

Dalam mendeskripsikan data kita perlu adanya kode yang memudahkan dalam pelaksanaan observasi. Misalnya deskripsi diberi kode D dan refleksi diberi kode R.
  • DP :    Deskripsi Partisipan, misalnya mengenai usia responden, wajahnya, tubuhnya, cara berpakaian, bertindak, berbicara, sikap dan sebagainya.
  • DD : Deskripsi Dialog, yaitu deskripsi yang berkaitan dengan percakapan antara peneliti dengan responden atau orang lain, juga antara orang yang ada hubungannya dengan topik penelitian.
  • DLF : Deskripsi Lingkungan Fisik, yaitu deskripsi mengenai keterangan tentang lokasi, gedung, ruangan, pekarangan fasilitas dan lain sebagainya.
  • DK : Deskripsi kejadian-kejadian, yaitu deskripsi tentang peristiwa-peristiwa apa yang terjadi, seperti tindakan guru, perbuatan siswa, pelajaran yang berlangsung, hukuman yang diberikan siswa, apa yang terjadi diluar kelas
  • DH : Deskripsi Hubungan dengan partisipan atau orang lain, misalnya hubungan antara siswa dengan temanya, guru dan  pegawai administrasi.


Refleksi adalah pemikiran, tafsiran atau komentar tentang apa yang diamati. Peneliti mengolah apa yang diobservasi, ia mencari maknanya untuk kemudian menemukan pola atau tema rangkaian kejadian-kejadian. Agar pemikirannya lebih sistematis, perlu diberikan kode sebagai berikut:
  • RR    : Refleksi tentang apa yang di rasakan oleh peneliti, yaitu bagaimana pengamat serta prasangka dan sikapnya terhadap responden.
  • RA    : Refleksi Analisis. Dalam penelitian naturalistik analisis dilakukan sejak awal pengumpulan data. Data harus di lakukan analisis dalam usaha untuk mencari makna, walaupun masih bersifat sementara. Analisis akan mendorong merumuskan pertanyaan baru yang memerlukan data baru yang dapat lebih memantapkan tafsiran atau justru membantah tafsiran. Analisis dilakukan untuk mengetahui hubungan antara data.
  • RM   : Refleksi Metodologi. Dalam penelitian naturalistik/ kulaitatif, tidak harus mengikuti langkah-langjkah yang telah ditetapkan. Metode penelitian tidak dapat dipastikan akan tetapi harus dipikirkan setiap kali menghadapi situasi baru.
  • RJ    : Refleksi Penjelasan. Bila ada hal-hal yang perlu mendapat penjelasan, misal mengenai sejarah, latar belakang lembaga, dan sebagainya dapat dimasukkan dalam bagian ini.
  • RE    : Refleksi Etis. Penelitian harus memegang teguh norma-norma penelitian, harus dijaga betul agar nama baik responden jangan tercemar, misal dengan memberi nama samaran. Bahkan kadang lokasi penelitian bisa disamarkan.



Baca SelengkapnyaJenis-jenis Pengumpulan Data

Minggu, 08 Maret 2015

Definisi dan contoh paragraf deduktif dan induktif

Ilustrasi, sumber : Google Image

Definisi paragraf Deduktif dan Induktif
  • Paragraf Deduktif - adalah paragraf yang kalimat utamanya terletak di awal paragraf dan di ikuti kalimat - kalimat penjelas.
  • Paragraf Induktif - adalah kebalikan dari paragraf deduktif yaitu paragraf yang diawali dengan beberapa kalimat penjelas yang kemudian pada akhir paragraf adalah kalimat utamanya. 
Secara sederhana dapat disimpulkan paragraf deduktif adalah paragraf dengan pola umum ke khusus sedangkan paragraf induktif dari pola khusus ke umum


Contoh Paragraf Deduktif
  1. Penyalahgunaan narkoba sangat berbahaya bagi kesehatan. Narkoba memiliki efek ketagihan dan setiap jenis dari narkoba memiliki efek yang berbeda beda diantaranya adalah dapat menyebabkan detak jantung yang lebih cepat dari normal bahkan banyak kasus orang yang menggunakan narkoba sampai mengalami kematian karena overdosis.
  2. Kebersihan sangat penting bagi kesehatan. Oleh karena itu kita harus selalu menjaga kebersihan baik itu dari makanan yang kita makan, kebersihan pakaian yang kita gunakan maupun lingkungan tempat tinggal kita. Sudah banyak orang yang terserang penyakit dikarenakan kurang menjaga kebersihan.
  3. Indonesia adalah negara yang majemuk. Terdapat banyak agama dan kepercayaan dan selain itu suku budaya indonesia sangat beragam misalnya suku jawa, madura, batak, ambon dan masih banyak lagi suku - suku yang memiliki ciri khas masing - masing.
Contoh Paragraf Induktif

  1. Banyak sekali orang yang terkena penyakit sebagai akibat dari kurangya kesadaran menjaga kebersihan baik itu dari makanan, pakaian yang kita gunakan maupun lingkungan tempat kita tinggal padahal hampir semua dari kita sudah tau bahwa kebersihan itu sangat penting untuk kesehatan.
  2. Suku jawa, suku madura, batak dan ambon adalah salah satu dari sekian banyak suku yang terdapat di Indonesia. Selain suku dan budaya yang beragam, terdapat pula berbagai agama dan kepercayaan maka dari itu Indonesia dikenal dengan negara yang majemuk.
  3. Narkoba memiliki efek candu yang sangat kuat dan dari jenis jenis narkoba tersebut ada yang dapat menyebabkan gairah meningkat, detak jantung meningkat, dan pada kondisi tertentu dapat menyebabkan overdosis dan kematian. Menghindari narkoba adalah harga mati karena sangat berbahaya bagi kesehatan

Baca SelengkapnyaDefinisi dan contoh paragraf deduktif dan induktif

Sabtu, 10 Januari 2015

Contoh Penulisan Ilmiah



KATA PENGANTAR




Alhamdulillah robbil’alamin, aya panjatkan puji syukur keghadirat Allah SWT. yang maha pengasih lagi maha penyayang, karena dengan rahmatnya dan karunianya lah, saya dapat menyelesaikan penulisan proposal Penulisan Ilmiah ini. Tak lupa shalawat dan salam saya sampaikan kepada sang pembawa kebenaran dan telah menyelamatkan kita semua dari kegelapan yaitu nabi besar Muhammad SAW.


Penulisan ilmiah ini berjudul “Penggunaan Dreamweaver dan Flash dalam Pembuatan Web”. Penulisan ini dimaksud untuk memenuhi persyaratan mencapai kelulusan dan menjadi gelar sarjana komputer, pada program studi Sistem Informasi Fakultas Ilmu Komputer Universitas Gunadarma.

Tidak lupa juga saya ingin berterima kasih kepada Kedua orang tua saya yang telah mesupport dan menyemangati saya, teman-teman saya yang telah membantu saya selama 3tahun belakang ini.

Penulisan ini menyadari Penulisan Ilmiah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari segi bahasa maupun materi yang tertuang didalamnya. Namun besar harapan Penulisan Ilmiah ini dapat bermanfaat untuk menambah wawasan dan ilmu pengetahuan baru bagi pembaca,amin.



Jakarta,20 Januari 2013


Lovina Ramadhani 



Daftar Isi

KATA PENGANTAR .................................................................................................................. i

DAFTAR ISI .............................................................................................................................. ii 

BAB I Pendahuluan

a. Latar Belakang Masalah ....................................................................................................... 1
b. Identifikasi Masalah .............................................................................................................. 1
c. Rumusan Masalah ............................................................................................................... 3
d. Tujuan ................................................................................................................................. 3
e. Manfaat penulisan Ilmiah ....................................................................................................... 3

BAB II Landasan teori

1. Macromedia Dreamweaver .................................................................................................... 4
2. Flash .................................................................................................................................. 5

BAB III Penutup

a. Kesimpulan .......................................................................................................................... 7

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................. 8



BAB I

Pendahuluan

a. Latar belakang masalah

Banyak dari kita yang ingin masak sesuatu untuk diri sendiri maupun seseorang yang spesial, namun kendalanya adalah kita yang tidak bisa memasak. Berbagai jenis masakan ingin kita sajikan baik yang masakan dari negri kita sendiri atau dari luar seperti Asian food lain atau western food lain yang menarik dimata dan selera kita. Menu-menu yang disajikan diusahakan semudah mungkin dengan rasa yang menarik dan hasil yang indah juga.

Untuk itu saya akan membuat sebuah web dengan menggunakan dreamweaver dan flash yang akan saya beri judul “CINTA MASAK”. Pengaplikasian dreamweaver dan flash didalamnya saya akan tambahkan pula video yang menunjukkan cara pemasakkannya yang bisa juga didownload dengan mudahnya oleh para pengunggah dunia maya nanti.

Saya akan membuat web yang bisa diakses dengan komputer, tab maupun dapat dengan mudah juga diakses denga smartphone. Berbagai aplikasinya saya buat semudah mungkin hingga para pengunggah dapat masuk dan mendownload dengan bebas menu apa saja yang ingin disajikannya.

b. Identifikasi masalah

Pada web ini tidak semua cara pembuatan semua makanan dapat divideokan. Karena saya juga mengambil beberapa menu masakan dari beberapa sumber yang menarik untuk disajikan kepada para pengunjung web ini yang akan menyajikannya. Saya akan selalu berusaha untuk mengupdate setiap maskan yang terbaru atau yang sedang menjadi tren nya saat itu.

Penggunaan media flash didalam web ini sebenarnya bisa menjadi sesuatu masalah yang harus dipecahkan, dikarenakan dapat membuat waktu loading yang lebih lama. Oleh karena itu saya akan menyajikan video video yang tidak akan membuang banyak waktu dalam pembuatannya. Membuat video dengan jelas tetapi tidak memakan waktu lama untuk menunggu, sehingga para pengunggah nanti tidak bosan dalam menunggu waktu loading yang lama akibat penggunaan flash ini.

Saya harus bisa membuat beberapa aplikasi tambahan pada web ini agar dapat dinikmati oleh para penikmat nanti. Pemakaian dreamweaver, flash dan beberapa aplikasi lain yang mungkin saya akan pakai.semua aplikasinya harus bisa saya kelola dengan baik agar tidak rumit nantinya bagi para pembacanya. Tata cara peletakan atau penempatan toolbox menu atau apapun harus seefisien mungkin. Penggunaan tampilan menu yang sesimple mungkin tetapi lengkap yang ingin saya sajikan dalam web ini. Penggunaan video dalam web ini juga akan saya sajikan dengan jelas bahan yang akan disajikan dan takarannya. Gambar yang ditampilkan dalam video saya unggah, saya usahakan tidak rusak atau ada kecatatannya. 


Penggunaan bahan dalam pemasakkannya pun harus bisa semudah mungkin untuk didapatkan, baik di pasar tradisional maupun pasar modern. Cara penyajiannya juga sesimple mungkin akan saya terapkan diweb ini. 


c. Rumusan masalah

1. Dreamweaver

i. Pengertian Dreamweaver
ii. Kelemahan Dreamweaver
iii. Kekurangannya Dreamweaver

2. Flash

i. Pengertian Flash
ii. Kelemahan Flash
iii. Kekurangannya Flash


d. Tujuan

Saya membuat ini agar orang-orang dapat memasak dengan mudah dan tidak repot harus mencari resep dengan buku atau koran lainnya. Karena sekarang media internet bisa imanfaatkan dengan baik untuk bisa mengajarkan orang untuk bisa memasak.


e. Manfaat penulisan ilmiah

Manfaat yang bisa saya katakan disini untuk orang yang tidak suka memasak karena dengan alesan yang berbagai, bisa mencintai masak dan membuat sesuatu dengan tangannya sendiri baik untuk dirinya atau orang yang disayanginya nanti.



BAB II

Landasan teori

a. Landasan teori

1. Macromedia Dreamweaver

i. Pengertian

Macromedia Dreamweaver adalah sebuah software HTML editor profesional yang digunakan untuk mendesain secara visual dan mengelola situs web maupun halaman web. Macromedia Dreamweaver membuat cara penyajian web yang lebih mudah dengan menyediakan tools yang sangat berguna dalam peningkatan kemampuan dan pengalaman mendesain web.
Dreamweaver yang akan saya gunakan adalah Dreamweafer 8 yang didalamnya terdapat banyak tools untuk kode-kode dalam halaman web beserta fasilitas-fasilitasnya diantaranya, Referensi HTML, CSS dan javascript, javascript debugger dan editor kode yang mengizinkan kita mengedit kode Javascript, XML, dan documen teks lain secara langsung dalam Dreamweaver.


ii. Kelebihan Dreamweaver

a. Kemampuan membuat halaman web yang terlihat konsisten.
b. Kemudahan dan efisiensi dalam penggunaan
c. Mudah untuk mengupload melalui FTP
d. Dapat dikostum


iii. Kekurangan Dreamweaver

Kekurangannya adalah dari segi harga. Deamweaver CS5 dibandrol oleh Adobe sekitar $399.


2. Flash

i. Pengertian Flash

flash adalah salah satu hasil karya multimedia yang dapat digunakan untuk menampilkan animasi bebrbentuk gambar, tulisan, video, dan suara dengan kualitas yang cukup baik. Bahkan jika objek yang adda dalam flash terbuat dari bentuk-bentuk dasar seperti shape, line, dan text bisa ditampilkan dengan sangat sempurna karena tergolong kekategori kualitas gambar vektor layaknya materi yang digunakan untuk percetakan.


ii. Kelebihan Flash

Flash memiliki kemampuan untuk membuat sebuah website yang interaktif dan ekspresif. Mulai dari membuat tampilan yang sederhana hingga membuat sebuah video hingga games.

Tampilan flash kompatibel dengan semua browser, tidak seperti tampilan html dan css yang tiap browser kadang berbeda dalam menterjemahkan kode sebuah halaman web.

iii. Kekurangan Flash

1. Waktu loading dalam penggunaan flas merupakan salah satu kekurangannya dikarenakan berat dan lambat. Itu semua dikarenakan flash memiliki ukuran yang besar.

2. Dalam pengunggahan sebuah video yang menggunakan flas, harus dibutuhkan software flash player.

3. Flash tidak dapat diakses dalam smarthone seperti blackberry dan iphone. Saat ini hanya bisa digunakan dalam smartphone yang memakai OS Android.

BAB III

Penutup


a. Kesimpulan

Dreamweaver dan Flash adalah salah satu aplikasi dalam pembuatan web. Bisa menjadi salah satu pilihan dalam pembuatan web yang kreatif dan abgus untuk dikunjungi. Asalkan penempatan tools-tools yang tepat kita nisa menyajikan sesuatu yang indah dan membuat para pengunjung setia untuk mengunjungi web kita. Walau banyak kekurangan tetapi semuanya bisa ditutupi dengan kelebihan yang ada pada media-media ini.



DAFTAR PUSTAKA











Sumber :



Baca SelengkapnyaContoh Penulisan Ilmiah

Senin, 03 November 2014

RAGAM DAN LARAS BAHASA

sumber : google

Didalam bahasa indonesia disamping dikenal kosa kata baku indonesia dikenal pula kosa kata bahasa indonesia ragam baku,yang alih-alih disebut sebagai kosa kata baku bahasa indonesia baku.kosa kata bahasa indonesia ragam baku atau kosa kata bahasa indonesia baku adalah kosa kata baku bahasa indonesia,yang memiliki ciri kaidah bahasa indonesia ragam baku,yang di jadikan tolak ukur yang di tetapkan berdasarkan kesepakatan penutur bahasa indonesia,bukan otoritas lembaga atau intansi didalam menggunakan bahasa indonesia ragam baku.jadi,kosa kata itu digunakan didalam ragam baku bukan ragam santai atau ragam akrab.walaupun demikian,tidak tertutup kemungkinan digunakannya kosa kata ragam baku didalam pemakaian ragam-ragam yang lain asal tidak mengganggu makna dan rasa bahasa ragam yang bersangkutan.


1. Ragam Bahasa

Ragam bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicara (Bachman, 1990). Ragam bahasa yang oleh penuturnya dianggap sebagai ragam yang baik (mempunyai prestise tinggi), yang biasa digunakan di kalangan terdidik, di dalam karya ilmiah (karangan teknis, perundang-undangan), di dalam suasana resmi, atau di dalam surat menyurat resmi (seperti surat dinas) disebut ragam bahasa baku atau ragam bahasa resmi. Berikut ini jenis dan ragam bahasa selengkapnya.

Menurut Felicia (2001 : 8), ragam bahasa dibagi berdasarkan :
1. Media pengantarnya atau sarananya, yang terdiri atas :
a. Ragam lisan.
b. Ragam tulis.

2. Berdasarkan situasi dan pemakaian
Ragam bahasa baku dapat berupa : (1) ragam bahasa baku tulis dan (2) ragam bahasa baku lisan. Dalam penggunaan ragam bahasa baku tulis makna kalimat yang diungkapkannya tidak ditunjang oleh situasi pemakaian, sedangkan ragam bahasa baku lisan makna kalimat yang diungkapkannya ditunjang oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi pelesapan unsur kalimat.

RAGAM BAHASA BERDASARKAN PENUTUR

1. Ragam bahasa berdasarkan daerah disebut ragam daerah (logat/dialek).
Luasnya pemakaian bahasa dapat menimbulkan perbedaan pemakaian bahasa. Bahasa Indonesia yang digunakan oleh orang yang tinggal di Jakarta berbeda dengan bahasa Indonesia yang digunakan di Jogjakarta, Bali, atau bisa kita lihat dari yang paling dekat saja kadang bahasa yang digunakan orang Jakarta dengan orang Bogor ataupun Bandung sudah berbeda. Masing-masing memiliki ciri khas yang berbeda-beda. 

2. Ragam bahasa berdasarkan pendidikan penutur. 
Bahasa Indonesia yang digunakan oleh kelompok penutur yang berpendidikan berbeda dengan yang tidak berpendidikan, terutama dalam pelafalan kata yang berasal dari bahasa asing, misalnya fitnah, kompleks, vitamin, video, film, fakultas. Penutur yang tidak berpendidikan mungkin akan mengucapkan pitnah, komplek, pitamin, pideo, pilm, pakultas. Perbedaan ini juga terjadi dalam bidang tata bahasa, misalnya mbawa seharusnya membawa, nyari seharusnya mencari. Selain itu bentuk kata dalam kalimat pun sering menanggalkan awalan yang seharusnya dipakai.

3. Ragam bahasa berdasarkan sikap penutur. 
Ragam bahasa dipengaruhi juga oleh setiap penutur terhadap kawan bicara (jika lisan) atau sikap penulis terhadap pembawa (jika dituliskan) sikap itu antara lain resmi, akrab, dan santai. Kedudukan kawan bicara atau pembaca terhadap penutur atau penulis juga mempengaruhi sikap tersebut. Misalnya, kita dapat mengamati bahasa seorang bawahan atau petugas ketika melapor kepada atasannya. Jika terdapat jarak antara penutur dan kawan bicara atau penulis dan pembaca, akan digunakan ragam bahasa resmi atau bahasa baku. Makin formal jarak penutur dan kawan bicara akan makin resmi dan makin tinggi tingkat kebakuan bahasa yang digunakan. Sebaliknya, makin rendah tingkat keformalannya, makin rendah pula tingkat kebakuan bahasa yang digunakan.

Bahasa baku merupakan ragam bahasa yang dipakai dalam situasi resmi/formal, baik lisan maupun tulisan.
Bahasa baku dipakai dalam :
  1. Pembicaraan di muka umum, misalnya pidato kenegaraan, seminar, rapat dinas memberikan kuliah/pelajaran;
  2. Pembicaraan dengan orang yang dihormati, misalnya dengan atasan, dengan guru/dosen, dengan pejabat;
  3. Komunikasi resmi, misalnya surat dinas, surat lamaran pekerjaan, undang-undang;
  4. Wacana teknis, misalnya laporan penelitian, makalah, tesis, disertasi.

Segi kebahasaan yang telah diupayakan pembakuannya meliputi :
  1. Kata bahasa yang mencakup bentuk dan susunan kata atau kalimat, pedomannya adalah buku Tata Bahasa Baku Indonesia;
  2. Kosa kata berpedoman pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI);
  3. Istilah kata berpedoman pada Pedoman Pembentukan Istilah;
  4. Ejaan berpedoman pada Ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan (EYD);
  5. Lafal baku kriterianya adalah tidak menampakan kedaerahan.
RAGAM BAHASA MENURUT POKOK PERSOALAN ATAU BIDANG PEMAKAIAN

Dalam kehidupan sehari-hari banyak pokok persoalan yang dibicarakan. Dalam membicarakan pokok persoalan yang berbeda-beda ini kita pun menggunakan ragam bahasa yang berbeda. Ragam bahasa yang digunakan dalam lingkungan agama berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam lingkungan kedokteran, hukum, atau pers. Bahasa yang digunakan dalam lingkungan politik, berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam lingkungan ekonomi/perdagangan, olah raga, seni, atau teknologi. Ragam bahasa yang digunakan menurut pokok persoalan atau bidang pemakaian ini dikenal pula dengan istilah laras bahasa.

Perbedaan itu tampak dalam pilihan atau penggunaan sejumlah kata/peristilahan/ungkapan yang khusus digunakan dalam bidang tersebut, misalnya masjid, gereja, vihara adalah kata-kata yang digunakan dalam bidang agama; koroner, hipertensi, anemia, digunakan dalam bidang kedokteran; improvisasi, maestro, kontemporer banyak digunakan dalam lingkungan seni; pengacara, duplik, terdakwa, digunakan dalam lingkungan hukum; pemanasan, peregangan, wasit digunakan dalam lingkungan olah raga. Kalimat yang digunakan pun berbeda sesuai dengan pokok persoalan yang dikemukakan. Kalimat dalam undang-undang berbeda dengan kalimat-kalimat dalam sastra, kalimat-kalimat dalam karya ilmiah, kalimat-kalimat dalam koran/majalah, dll. Contoh kalimat yang digunakan dalam undang-undang.

2. Laras Bahasa

Pada saat digunakan sebagai alat komunikasi, bahasa masuk dalam berbagai laras sesuai dengan fungsi pemakaiannya. Jadi, laras bahasa adalah kesesuaian antara bahasa dan pemakaiannya. Dalam hal ini kita mengenal iklan, laras ilmiah, laras ilmiah populer, laras feature, laras komik, laras sastra, yang masih dapat dibagi atas laras cerpen, laras puisi, laras novel, dan sebagainya. Setiap laras memiliki cirinya sendiri dan memiliki gaya tersendiri. Setiap laras dapat disampaikan secara lisan atau tulis dan dalam bentuk standar, semi standar, atau nonstandar.

Jenis dan Ciri Laras Bahasa

Laras bahasa dapat digolongkan kepada dua golongan besar, yaitu laras biasa dan laras khusus. Laras biasa ialah laras khusus yang digunakan untuk masyarakat umum seeprti bidang hiburan (laporan suskan, berita sukan), pengetahuan dan peneranagn (syarahan, rencana), maklumat dan pemujukan (rencana, iklam).
Laras khusus pula merujuk kepada kegunaan untuk khalayak khusus seperti ahli-ahli atau peminat dalam bidang tertentu dan pelajar-pelajar (rencana, laporan, buku).
Pembeza utama yang membezakan antara laras biasa dengan laras khusus ialah:
  • kosa kata
  • tatabahasa
  • gaya

1. Laras Bahasa Biasa
Tidak melibatkan bidang tertentu, mudah difahami, tiada istilah teknikal, kurang kata pinjaman.)
Laras biasa ialah laras bahasa yang yang digunakan unuk khalayak umum tentang pelbagai bidang seperti bidang hiburan (laporan sukan, berita sukan), pengetahuand an penerangan (syarahan, encana) dan maklumat dan pemujukan (rencana, iklan).

2. Laras Bahasa Perniagaan
Mempengaruhi pengguna untuk membentuk tanggapan tertentu , atau mengubah sikap dan melakukan tindkan.
Digunakan dalam iklan, tender, laporan dan sebagainya , disokong pula oleh gambar, lukisan, grafik, ilustrasi dansebagainya.
Iklan dapat dihasilkan dengan beberapa cara seperti berikut:
(a) slogan: Kami Ada Cara
(b) Kaedah Pernyataan: Rumah Untuk Dijual/Disewa
(c) Perkaitan Konsep: Artis X dengan Tilam Jenama Y
(D) Perisytihran: Waja dengan Aksesori Lengkap
(e) Kaedah Umpan: Beli Satu, Percuma Satu
(f) Mesra: Keutamaan Kami Adalah Pelanggan.
(g) Bandingan: Bateri X Lebih Berkuasa dan Tahan Lama
(h) Gesaan: Cepat! Cepat! Datanglah Beramai-ramai
(i) Pertanyaan: Sakit Pinggang? Sapulah Dengan Minyak Angin Z.

3. Laras Bahasa Akademik
Meliputi berbagai bidang seperti sains, teknologi, komunikasi, matematik dan sebagainya yang terletak dalam ruang lingkup pendidikan.
Dalam penulisan ilmiah, misalnya penulisan thesis, penulis perlu mengikut fornmati tertentu seperti perlu ada cattan bibiliografi (rujukan), nota kaki di bawah muka surat atau nota hujungan di penghujung setiap bab.
Menggunaka istilah-istilah yang khusus kepada bidang, dan biasanya perlu dihafal. Contohnya ialah fotosintesis, pecutan, mengawan, pendebungaan dan sebagainya.

4. Laras Bahasa Undang-Undang
Tiada gambar, graf, metafora, simili, peribahasa, kiasan dan sebagainya. mempunyai istilah sendiri seperti Argumantum ad baculum, habeas corpus dan sebagainya.

5. Laras bahasa media
Berita sebagai satu wacana mempunyais truktur teks yang tersnediri, laind aripada struktur teks cereka, dan lain pula daripada struktur teks esei dan karya ilmiah.

Wartawan atau pengarang akhbar menggunakan bahasa untuk menjelaskan sesuatu menurut cara yang paling mudah diterima sesuai dengan selera sebilanganbesar pemvbaca akhbar.

Tiga ciri penting yang harus ada dalam berita akhbar yang baikialah, pertama, baasa yang digunakan mudah. kedua, gaya tulisan yang jelas danketuiga, isi tulisan mestilah tepat. Oleh sebab akhbar diterbitkan untuk orang ramai, maka bahasa akhbar haruslah sesuai dengan bahasa kegunaan orang ramai.

6. Laras Bahasa Sastera
Memperlihatkan gaya bahasa yang menarik dan kreatif. Bahasanya boleh dalam bentuk naratif, deskriptif, preskriptif, dramatik dan puitis.
Beberapa ciri bahasa sastra:
a kreatif dan imaginatif: kabur mesej
b. mementingkan penyusunan, pengulangan, pemilihan kata
c. puitis dan hidup,: monolog, dialog, bunga-bunga bahasadan sebagainya.
d. menggunakan bahas tersirat: perlambangan, kisan, perbandingan, peribahasa, metafora, simile, personifikasi, ilusi, ambiguiti dan sebagainya.
e. terdapat penyimpangan tatabahasa atau manipulasi bahasa.

7. Laras Bahasa Agama
Mengandungi istilah agama daripada bahasa Arab Struktur ayatnya banyak dipengaruhi struktur bahasa Arab Diselitkan dengan petikan daripada al-Quran dan hadist.


sumber :
Baca SelengkapnyaRAGAM DAN LARAS BAHASA

BAHASA SEBAGAI ALAT KONTROL SOSIAL

sumber : google

Sebagai alat kontrol sosial, bahasa sangat efektif. Kontrol sosial ini dapat diterapkan pada diri kita sendiri atau kepada masyarakat. Berbagai penerangan, informasi, maupun pendidikan disampaikan melalui bahasa. Buku-buku pelajaran dan buku-buku instruksi adalah salah satu contoh penggunaan bahasa sebagai alat kontrol sosial.


Ceramah agama atau dakwah merupakan contoh penggunaan bahasa sebagai alat kontrol sosial. Lebih jauh lagi, orasi ilmiah atau politik merupakan alat kontrol sosial. Kita juga sering mengikuti diskusi atau acara bincang-bincang (talk show) di televisi dan radio. Iklan layanan masyarakat atau layanan sosial merupakan salah satu wujud penerapan bahasa sebagai alat kontrol sosial. Semua itu merupakan kegiatan berbahasa yang memberikan kepada kita cara untuk memperoleh pandangan baru, sikap baru, perilaku dan tindakan yang baik. Di samping itu, kita belajar untuk menyimak dan mendengarkan pandangan orang lain mengenai suatu hal.

Contoh fungsi bahasa sebagai alat kontrol sosial yang sangat mudah kita terapkan adalah sebagai alat peredam rasa marah. Menulis merupakan salah satu cara yang sangat efektif untuk meredakan rasa marah kita. Tuangkanlah rasa dongkol dan marah kita ke dalam bentuk tulisan. Biasanya, pada akhirnya, rasa marah kita berangsur-angsur menghilang dan kita dapat melihat persoalan secara lebih jelas dan tenang. Semangat siang.



Sumber :
Baca SelengkapnyaBAHASA SEBAGAI ALAT KONTROL SOSIAL

Minggu, 02 November 2014

Program pembuatan garis (vertikal, horizontal & diagonal) dengan menggunakan Dev C++

Berikut ini merupakan program untuk membuat berbagai bentuk garis (vertikal, horizontal dan diagonal) dengan menggunakan OpenGL dan DEV C++ sebagai (Integrated Development Environtment).

> SYARAT-SYARAT PEMBUATAN PROGRAM :

Syarat yang diperlukan untuk membuat program ini diantaranya :
  1. DEV C++ (sebagai IDE/Integrated Development Environment) : silahkan download disini à http://www.bloodshed.net/dev/devcpp.html
  2. Header Glut (Header untuk menuliskan program OpenGL) : silahkan download di sini à http://www.javaforge.com/doc/105278
Untuk lebih jelas dan lengkap mengenai source code, penjelasan, screenshot silahkan download Program pembuatan garis pada OpenGL (Dev C++).doc
Baca SelengkapnyaProgram pembuatan garis (vertikal, horizontal & diagonal) dengan menggunakan Dev C++